header

Mutiara Hikmah

dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Ibrahim:7)

 

“Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim diantara dua orang tua yang muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga.” [HR. Abu Ya'la dan Thobroni, Shohih At Targhib, Al-Albaniy : 2543]

 

 

“Saya bersama pengampu anak yatim, di surga kelak akan bagini, beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya, masing-masing jari manis dan jari tengah.” (H.R. Bukhari)

 

"Bersikaplah kepada anak yatim, seperti seorang bapak yang penyayang.” [HR. Bukhori]

 
Kedahsyatan Memelihara Anak Yatim PDF Cetak Email
Penilaian User: / 45
TerburukTerbaik 
Ditulis oleh Administrator   

Oleh-oleh dari MaBIT Majlis Al-Kauny IX  (Bagian 2)

Pembicara lainnya pada MaBIT kali ini adalah Bapak Houtman Zainal Arifin dan Bayu Gawtama. Dalam pengantarnya Pak Houtman mengungkapkan pentingnya perhatian dan kasih sayang dalam mendidik anak. “Saat ini banyak anak yang menjadi yatim (sebelum masanya) karena tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya,” ujar ex Vice President Citibank ini. Karena kasih sayangnya itulah, ia rela menjadi pemulung selama dua puluh tahun lebih.

Memulung? Ya, sejak 20-an tahun lalu, setiap jelang tengah malam beliau berkeliling Jakarta mendatangi hotel-hotel untuk mengumpulkan roti-roti sisa (yang oleh pihak hotel roti tersebut tak boleh lagi dihidangkan esok hari) lalu membawanya ke penampungan-penampungan dan yayasan-yayasan anak yatim yang tersebar di berbagai wilayah.

Lalu, adakah kesulitan dalam mengasuh anak yatim? “Kalau kita punya kemauan, tidak ada yang mustahil, inysa Allah,” jawabnya singkat saat ditanya mengenai kesuksesannya dalam membina ratusan—bahkan ribuan—anak yatim.

Dia mengisahkan, pada tahun 1984 lalu, Pak Houtman mengundang Muhammad Ali, sang petinju legendaris, bertandang ke rumahnya—dimana terdapat banyak anak yatim. Kala itu, Ali sedang ditimpa sakit parkinson: tidak dapat bergerak bebas dan tidak bisa mengendalikan tubuhnya saat berjalan layaknya orang sehat. Namun, saat berkunjung ke rumah beliau, Ali tampak sangat sehat. Ia melangkah, berlari-lari dan bermain dengan bebasnya bersama anak-anak yatim layaknya orang sehat. Bahkan ia naik turun tangga antara lantai bawah dan lantai atas sembari menggendong anak yatim layaknya seorang yang segar bugar.

Kisah lainnya, beliau pernah menemukan seorang bayi yang dibuang oleh ibunya. Punuknya memanjang hingga ke punggungnya. Kedua kakinya saling menyilang, demikian pula tangannya. Mungkin karena itulah sehingga orangtuanya membuangnya, hingga muka bayi tersebut sampai dikerumuni oleh semut.

Merasa iba melihat bayi tersebut, setelah melalui diskusi dengan anggota keluarganya, beliau membawa bayi itu ke rumahnya. Saat sampai di rumah, beliau merasakan ada sesuatu yang berbeda; rumah yang tadinya terlihat dan terasa sempit tiba-tiba menjadi lapang dan luas. Luar biasa! “Setelah kejadian itu, keajaiban demi keajaiban terus terjadi mengiringi kami,” kenangnya.

Namun, selang beberapa hari kemudian, bayi itu jatuh sakit. Beliau langsung membawanya ke rumah sakit di bilangan Pondok Indah. Entah karena kondisi bayi yang tak sempurna sehingga pihak rumah sakit menolaknya atau karena sebab lain, kendati kala itu beliau telah memperlihatkan segala bentuk kartu perbankan miliknya sebagai bukti kesungguhan dan kemampuannya untuk membayar seluruh tagihan perawatan.

Karena ditolak, beliau kemudian memacu mobilnya menuju sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Barat dengan harapan bayi itu segera mendapat pertolongan. Sesampainya di sana, ia disambut oleh suster penjaga. Selang beberapa menit kemudian, puluhan dokter berjejer sembari memperhatikan bayi mungil itu. “Mohon ditempatkan di ruang VIP. Saya tidak mau ‘anak saya’ menjadi tontonan orang banyak,” tegasnya kepada para dokter dengan menyebut bayi itu sebagai anaknya. Subhanallah!

Setiap hari beliau bolak balik antara rumah, kantor dan rumah sakit. Tak jarang beliau datang ke rumah sakit dengan pakaian kerja, jas dan dasi yang masih menggantung, karena sayangnya terhadap anak itu.

Waktu terus bergulir, menit demi menit, jam demi jam, dan hari demi hari, namun anak itu belum juga mengalami perubahan signifikan. Saat tenggelam dalam penantian akan kesembuhan “anaknya”, beliau tiba-tiba mendapat berita bahwa tantenya di Semarang meninggal dunia. Beliau langsung menuju bandara diantar oleh sopirnya.

Namun, sesaat sebelum naik pesawat, ia mendapat telpon dari rumah bahwa “anaknya” meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. “Tante di sana pasti ada yang ngurus. Anak ini siapa yang akan mengurusnya selain saya?!” Pak Houtman membatin. Beliau mengurung niatnya berangkat ke Semarang, demi untuk mengurus anaknya yang baru saja dipanggil oleh SWT.

Sesampai di rumah sakit, beliau langsung menuju ruang mayat. Subhanallah, di sana beliau mendapati bau yang sangat harum, belum pernah ia mencium bau yang sesejuk dan seharum itu. Bau harum istimewa itu tersebut terus menyertainya sepanjang jalan hingga sampai ke kuburan.

Setelah anak itu dimasukkan ke laing lahad, salah seorang teman, sebut saja namanya Sukanto, meminta izin kepada beliau untuk turun mendoakannya. “Karena saya menilai niatnya baik, maka saya tak dapat melarangnya,” ujarnya.

Namun, setelah puluhan menit Sukanto berdo’a, ia belum juga berdiri. Ia tak mau beranjak dari kuburan tersebut. Saat ditanyakan alasannya, Sukanto menjawab, “Saya melihat pemandangan yang indah sekali. Sebuah pemandangan yang tiada taranya,” jawabnya.

Setelah pemakaman usai saya berdiri mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan yang telah turut menyertai anak kami. “Satu hal yang sengaja saya tak lakukan adalah meminta maaf seperti yang lazim dilakukan banyak orang, karena saya yakin betul anak itu tak memiliki kesalahan apapun, sehingga saya tidak perlu memohon maaf,” tegasnya.

Kisah demi kisah terus mengalir dari lisan Pak Houtman, membuat para peserta MaBIT terharu, bahkan banyak di antara mereka yang meneteskan air mata. “Sayangilah anak-anak kalian. Jangan biarkan mereka yatim. Dunia ini sudah penuh dengan anak yatim,” tegasnya menutup kalimatnya sebelum tanya jawab.

Yatim Sebelum Masanya

Kini tibalah giliran Bayu Gawtama (Kang Bayu), pendiri School of Life dan Yayasan Sahabat Peduli. Kang Bayu menegaskan bahwa dirinya adalah potret anak yang yatim sebelum masanya. Ayahnya meninggalkan ibunya beserta kelima orang anaknya, termasuk Kang Bayu yang saat itu baru duduk di bangku Sekolah Dasar. Karenanya, ibu Kang Bayu harus berperan ganda, menjadi ibu sekaligus sebagai ayah. Ibunya rela bolak balik antara Tangerang (sebagai tempat menetapnya) dengan Jakarta (tempatnya mengajar privat dari rumah ke rumah) guna menghidupi anak-anaknya. “Setelah isya, kami berlima (abang dan ketiga adik saya, termasuk adik saya yang baru berumur satu setengah tahun) menuju terminal bis Tangerang untuk menunggu ibu pulang dari Jakarta. Ibu selalu kembali dari Jakarta ke Tangerang dengan menumpangi bis terakhir,” kenangnya.

Kondisi itulah yang membuat Kang Bayu gonta ganti profesi. Dia pernah menjadi tukang semir sepatu, tukang cuci piring di warung Padang, hingga menjadi kenek angkot. Semua itu ia lakukan guna membantu ibunya menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya.

Dan, kondisi itu pulalah yang membuatnya menjadi anak yang mandiri, dan terus berupaya untuk memberikan manfaat sebanyak mungkin kepada anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Dia tahu betul bagaimana pahitnya menjadi anak yang ditinggal ayah. “Lebaran Bersama Anak Yatim” adalah salah satu programnya. Hal ini ia lakukan guna membuat anak-anak yatim tersenyum bahagia, suasana yang tidak pernah dirasakannya saat dirinya masih kecil kendati ayahnya masih hidup. (my.shandy)***

 

Photo Pengurus

iv.supaat.jpg

Status Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini22
mod_vvisit_counterKemarin38
mod_vvisit_counterMinggu Ini22
mod_vvisit_counterMinggu Lalu308
mod_vvisit_counterBulan Ini912
mod_vvisit_counterBulan Lalu844
mod_vvisit_counterTotal210999

Online (20 minutes yang lalu): 1
Your IP: 103.253.212.141
,
Hari Ini: 19 Agustus 2018